A Long Journey (Lanjutan)

A Long Journey (Lanjutan)

Janji tetaplah sebuah janji. Satu hal yang jika umur masih ada, wajib ditepati. Di akhir Februari lalu saya pernah berjanji untuk berbagi cerita perjalanan saya di Jogja. Tepatnya melanjutkan cerita A Long Journey (Part I).

Di hari kedua saya, Rabu, 23 Februari 2011, setelah mengitari kawasan Merapi pada pagi hari dan bersantap siang dengan Nasi Kuning Sambal Habang khas Banjarmasin di Kindai, saya dengan diantarkan seorang teman menuju perpustakaan Fak. Ekonomi UGM. Sayang sekali, buku yang saya cari tidak ada. Kata petugas perpus, kemungkinan besar buku yang saya cari ada di Perpustakaan Utama (PU). Mungkin besok saya baru bisa ke sana, mengingat teman yang mengantarkan saya punya jadwal kuliah sampai sore nanti. Zhuhur sudah tiba, saya naik ke mushola di lantai atas. Karena ini hari kedua saya di Jogja, saya pun memutuskan menjamak taqdim. Rukhshah dari Allah memang sudah seharusnya diambil, tidak boleh disia-siakan.

Sambil menunggu teman yang sedang kuliah, saya browsing dan membalas beberapa email teman. Kemudian, mulai memantapkan mata ke sebuah buku tebal bertemakan Accounting for Not for Profit Organization. Tema yang ringan, namun menelisik kepekaan kita. Saya tercenung, betapa banyak entitas masa kini yang mengoarkan dirinya berbasis nirlaba namun justru laba yang selalu mereka cari dalam tiap program amalnya. Konon, seorang dirut  sebuah entitas nirlaba mengeruk keuntungan puluhan juta tiap bulannya, yang katanya, nominalnya jauh lebih tinggi dari gaji seorang presiden sekalipun. “Zaman sekarang, nirlaba ataupun tidak, memang sudah tidak ada bedanya, ujung-ujungnya sama saja, profit oriented,” pikir saya.

Asyik membaca, saya mulai lupa waktu, di luar sudah mulai gelap. Saya mengambil ponsel, ada tiga panggilan tak terjawab dan dua sms. Dari teman saya. Dia sedang menunggu saya di depan pagar perpustakaan fakultas. Saya bergegas ke sana, nyengir,  dan meminta maaf. Ponsel saya dalam kondisi silent karena lagi perpustakaan. Jadinya tidak mendengar ada telepon dan sms masuk. Teman saya hanya bisa tersenyum, sudah tau kebiasaan saya, jika sudah ke perpus bisa lupa waktu. Ketika saya di SMA, saya pernah diusir paksa oleh petugas perustakaan daerah. Waktu itu saya di perpus dari jam 8 sampai jam 5 sore. Penjaga perpus sudah mau pulang dan mengancam akan tetap mengunci pintunya jika saya tidak pulang. Saya tetap bergeming, akhirnya saya pun diseret keluar secara paksa. Hehe… Waktu itu saya lagi seru-serunya membaca sejarah penyebaran Islam di Jawa yang dilakukan oleh Laksamana Cheng Hoo, yang bukunya lebih tebal dari buku Harry Potter yang kelima.

Sesampainya di kosan teman saya, saya pun mandi dan berganti baju. Petang ini saya dan tiga orang teman saya akan menjelajahi Malioboro dan alun-alun. Tak berapa lama sampai di Malioboro, azan Maghrib berkumandang. Saya pun berniat untuk jamak ta’khir, mengerjakan solat Maghrib di waktu Isya. Setelah membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga dan temen-temen di Jakarta, saya dan 3 orang temen saya dengan dua buah motor menuju alun-alun. Meski malam Kamis, alun-alun sangat ramai. Saya membayangkan, gimana malam Minggu, ya? Mungkin sudah seperti pasar ikan di pagi hari, tumpah ruah.

Kami pun memilih tempat yang cukup untuk nongkrong kami berempat. Di sampingnya ada penjual ronde, minuman khas Jogja (cinca?). Butuh waktu lama bagi saya untuk membedakan antara ronde dan sekoteng. Menikmati udara Jogja yang dingin menggigit dipadukan dengan hangatnya ronde sungguh pas sekali. Kalimat tahmid meluncur dari lidah. Nikmat apa lagi yang pantas kita dustakan?

Jam menunjukkan angka 10, saatnya pulang. Besok siang, setelah saya ke PU pada pagi harinya, saya dan 3 orang teman saya berencana menjelajah daerah Magelang, tepatnya Candi Borubudur, salah satu dari 7 keajaiban dunia. Setelah itu, sorenya, pukul 16.45 saya akan pulang ke Jakarta dengan kereta ekonomi lagi (tak jera).

Setelah mendapatkan semua buku yang saya cari dan mem-photocopynya di PU UGM, pukul 11 rombongan saya berangkat. Dengan 2 buah motor, kami mulai mengarah ke utara Jojga. Ini untuk pertama kalinya saya ke Candi Borobudur. Perjalanan menuju Magelang membuat hati saya basah. Masih banyak atap-atap rumah diselimuti lahar dingin. Ada juga di beberapa kawasan jalan, separohnya ditimbuni lahar dingin. Satu momen yang membuat saya terenyuh. Membayangkan ketika detik-detik lahar dingin itu “merayapi” kehidupan masyarakat Magelang dan sekitar.

Sebelum memasuki Borobudur, kami solat Zhuhur dulu (plus solat Ashar bagi saya). Meneliti bangunan Borobudur, membuat kita berpikir, apakah bangunan ini benar dibangun berabad-abad yang lalu di mana belum ada IT canggih seperti sekarang? Sungguh luar biasa, tak terbayangkan oleh saya, ribuan orang yang dikerahkan pada dinasti Syailendra bahu membahu mengangkat batu alam sampai menjadi candi yang tinggi menjulang. Wow, fantastis!

Setelah mengambil beberapa foto dan puas menikmati pemandangan dari atas candi, kami pun turun ke bawah, melihat kerajinan tangan yang patut dijadikan oleh-oleh. Ternyata souvenir di sini jauh lebih murah dari Malioboro. Ada sedikit sesal kenapa saya ke Malioboro duluan. Seharusnya saya ke sini dulu. Saya membeli beberapa kaos, pin, gantungan kunci,  dan miniatur Borobudur untuk dibawa pulang.

Pukul 14.30 kami kembali menuju Jogja. Sebelum menuju  Stasiun Lempuyangan, saya ingin memanjakan lidah di Kindai (lagi-lagi). Menu yang saya pilih berbeda dengan sebelumnya. Kali ini saya memilih Soto Banjar sebagai menu utama makan siang. Setelah makan, saya pulang ke kosan teman. Sedikit tergesa membersihkan badan, membereskan barang, dan langsung menuju Lempuyangan. Jam 16.30, lima belas menit lagi kereta berangkat menuju Jakarta. Saya menjabat tangan teman saya dengan erat. Mengucapkan rasa terima kasih yang hangat. Saya berjanji untuk kembali ke sini tahun depan. Jogja bagi saya masih menyimpan misteri alam yang memukau, yang patut ditelusuri hingga ke pelosok-pelosoknya.

Jogja, wait for me. I’ll visit u later.

Jogja, February 24th 2011
Ditulis kembali, Depok, November 27th 2011

Contemplation

Contemplation

It’s 00:45 now. I still can’t close my eyes (sleeping). It’s the 4th day I can’t sleep. I just look the roof until sunrise comes. Life, love, and death fill my head. How long do we life? Whom we love? When do we die? They are can’t be answered because they are namely as destiny. Sometimes, I think hard about my “life”. Will I face death tomorrow? Or the day after tomorrow? Or today? It’s unpredictable. Will I die before married? Or after married? No one knows except the Creator. Who will be my husband? How is he? Can’t imagine him at all.

God had given us our destiny before we were born. I’m disappointed seeing someone can’t believe God. How could no God in the world? Who does arrange the discipline system of galaxy? Planets can’t be run well if there is not the Arranger. God and knowledge is near. We can find God if we really-really learn the lessons. There are many clues that proof God existence: the nature, human being, and messages. They are enough proofs for us to start believing God.

I’ve chatted with an atheist at the past. He said that he doesn’t believe God. But, sometimes when he was in an emergency time, he felt God. Yatta! Someone can say that he doesn’t believe God. Someone can say no God in this earth. But he can’t say that God can be felt. He is near with us.

A Long Journey

A Long Journey

Salam cenat-cenut, Sobat! (Ikutan gayanya Smash Blast nih)

Liburan kali ini saya menghabiskan waktu kampus-kosan selama 3 minggu untuk menyelesaikan skripsi saya. Tapi, ada beberapa data yang belum saya dapatkan sehingga mengharuskan saya untuk pergi ke Jogja. Senin malam saya berangkat -tepatnya pukul 21.00- dengan menggunakan Kereta Api Progo-Ekonomi jurusan Jakarta-Yogyakarta. Karena saya membeli tiket setengah jam sebelum keberangkatan, saya pun hanya bisa bersyukur mendapatkan tiket ekonomi tanpa tempat duduk. Saya sudah membayangkan untuk berdiri atau duduk di kolong kursi dengan hanya beralaskan koran selama 10 jam ke depan.

Ini adalah kali kedua saya ke Jogja. Tapi, untuk pertama kalinya dengan kereta, ekonomi pula. Sebelumnya saya ke Jogja dengan pesawat. Huff, pukul 21.00 saya meloncat masuk ke kereta api. Saya memulai perjalanan saya dengan bismillah. Beruntung ada seorang pria yang berbaik hati menyerahkan tempat duduknya buat saya sehingga bayangan buruk saya tentang 10 jam yang harus dilewati tanpa tempat duduk hilang sudah. Thanks, Man. Saya melayangkan mata ke luar kereta, hanya gelap yang dapat saya lihat. Saya berusaha untuk tidur agar pas saya bangun nanti Jogja sudah di pelupuk mata sehingga perjalanan 10 jam tidak dirasa terlalu berat. Alih-alih ingin tidur, memejamkan mata sebentar saja tidak bisa karena para penjaja yang berteriak-teriak di samping telinga dan melemparkan jualannya ke pangkuan penumpang semua. Hingga pukul 00.30 dini hari, para penjaja makin banyak memenuhi kereta, terlebih ketika kereta api mampir di Stasiun Cirebon selama 40 menit. Kereta bukan sesak dipenuhi penumpang tapi para pedagang. Lucu sekali. :D

Kereta terus meluncur melewati jurang yang tajam dan lereng yang terjal. Tidak ada yang dapat saya lihat di luar sana kecuali pekat. Saya mulai merasakan kantuk karena situasi kereta yang juga sudah mulai sepi. Tiba-tiba saya terbangun setelah tertidur kira-kira selama 30 menit karena mendengar teriakan dari arah ujung gerbong. Ada yang kehilangan dompet. Para petugas kereta berusaha menenangkan dan menanyakan kronologis kejadian. Saya merapatkan dekapan ke tas yang ada di pangkuan. Sebelumnya ada beberapa orang di kereta yang menyarankan saya untuk meletakkan tas di bagasi atas. Tapi, saya tidak mengindahkannya. Saya takut, ketika saya tertidur nanti, tasnya raib entah ke mana. Lagipula, tas saya tidak berat, hanya ada beberapa keping buku dan 2 stel pakaian serta camilan ringan.

Saya berusaha untuk tidur kembali, tapi sayang, pria di samping saya mengajak saya mengobrol. Awalnya memang ngobrol tapi akhirnya malah debat. Hehehe… Saya menanyakan apakah di WC kereta sini ada air atau tidak. Saya berniat ingin mengambil wudhu. Pria di samping saya yang mengaku santri sebuah pondok pesantren salaf menanyakan buat apa saya wudhu. Saya jawab saja untuk sholat. Dia mengatakan tidak sah sholat tanpa kiblat. Saya menjawab memang tidak sah. Tapi, untuk kondisi darurat seperti ini, Islam memberikan kelonggaran-kelonggaran. Saya juga melontarkan dalil Quran ada di lembar-lembar terakhir juz 1. Dia menyarankan agar saya mengqodho salat saja. Saya pun menerangkan bahwa qodho hanya untuk 2 kondisi. Tidur dan lupa.

Dia terdiam sebentar, kemudian meminta saya untuk tidak gampang menerjemahkan ayat secara tekstual. Dia menerangkan dalam kitab ini-itu, fatwa imam ini-itu, ujar ustadz ini-itu bahwa sholat dalam kendaraan itu tidak sah. Saya pun menyebutkan salah satu nama kitab fikih -pria itu juga tahu kitab tsb- dan menerangkan isinya mengenai bab sholat di atas kapal. Dia hanya terdiam dan bilang dia mengantuk kemudian tidur.

Jam tangan saya sudah menunjukkan angka 04.00. Di luar masih gelap. Sepanjang jalan saya tidak mendengar azan subuh. Sambil menunggu pukul 04.30 -waktu sholat subuh Depok- saya tilawah Quran dan dzikir. Setelah sholat, saya memandang ke luar kereta. Ada semburat merah yang menyembul dari pepohonan. Indah sekali. Alam mulai terang. Daun-daun mulai memamerkan keelokkan hijaunya. Hanya tasbih, tahmid, dan takbir yang tidak henti keluar dari lidah saya. Ya, Allah, inilah kuasaMu. Pukul 07.00, kereta sudah memasuki stasiun Lempuyangan. Seorang teman sudah menunggu di ujung sana.

Hari ini adalah hari kedua saya di kota Yogyakarta. Sejak kemarin hingga sekarang saya telah menjelajahi daerah Utara dan Selatan: Bantul, Sleman, dan Kaliurang. Kemarin saya hunting buku di UIN Sunan Kalijaga (SUKA) dan bersantap siang di Dapur Sambal, sedap nian. Subuh tadi saya juga ke kawasan Merapi yang adem sangat -dingin malah- dan menghabiskan waktu sarapan di Kindai, rumah makan khas Banjar. Saya jadi merasa berada di kampung halaman. What a world’s paradise.

Nantikan kisah perjalanan saya di Jogja selengkapnya di A Long Journey [Lanjutan]. C u… ^_^

Changin’ Blog Name

Changin’ Blog Name

Hi, guys who always read my blog with happiness.

Today, I decide to change my blog name from Nastanesha to Equilibrium [again]. I used to choose Equilibrium firstly. Then I changed it to Nastanesha. Now, I’m back to my first choice of blog name, Equilibrium.

Why I choose Equilibrium as my blog name?

Because Equilibrium is the condition of a system in which competing influences balanced. I hope this name can become a motivation for me to do everything with balance. We need balancing in all aspect of life. Without balancing, our life can be “unhealthy”. There is something wrong, rite?

When we eat too much, we’ll be fat. When we work too much, we’ll be sick.  When we think too hard, we’ll be dizzy. Too much is bad, otherwise too less is also bad. So, we need balancing as the middle of way. Prophet also ordered us to do that, rite? “Tawasuth” and “tawazun”.

Welcome to Equilibrium. ^^

I’ll Be Back

I’ll Be Back

Kususuri jalan yang tak bertepi

Luruh tanpa henti

Mencari sisa asa yang telah lama bersembunyi

Terpendam mati

 

Kusinggahi rumah-rumah blogger yang berliku

Elok nian dan tak berujung jemu

Duduk lama dengan bacaan seru

Hingga mata tertunduk sayu

 

Kusadari lemahnya diriku adalah fakta

Bahkan moody adalah hal yang biasa

Tapi tidak untuk jangka lama

Karena ia akan mematikan cipta

 

Kutemukan alfa yang telah kubuat

Mata berbinar dengan penuh niat

Untuk menulis dengan asa yang kuat

Dan menyapa teman-teman blogger nan hebat

 

My Room, Depok, 11.09

The Urgency of Sharia Economics Reaches the Basic Level of Education; Elementary School

The Urgency of Sharia Economics Reaches the Basic Level of Education; Elementary School

The introduction of sharia economics  is very important for Indonesian because many people don’t know about it. They only know conventional economics that controls the finance of our country. And it must not happen. Indonesia must begin to strainghten up its system of finance. Basically, economics is dominated by the legacy of Europe. Then, it is improved by western philosophers that consist of capitalist ideology.

This demage knowladge misleads our childern until they become the leader and the decision maker of economy. So that, we must begin to think how to practice sharia economics accepted by all of social stratum in Indonesia. One of the ways to realize it is giving an education about sharia economics for elementary school student.  There are many ways to practice education of sharia economics. They are:

  1. We can build education about sharia economics from islamic social organization firstly. There are hundreds or almost one thousand islamic social organizations such as; Persis, Muhammadiyah, NU, etc. This way might be easier to introduce education about sharia economics because the students have studied about islamic lessons in their school like Tafsir Quran wal Hadits, Fiqih Muamalah, etc. And sure, they have already known about argument sharia economics with reference of Quran and Hadits. Well, we just give them intensive lesson about sharia economics and then we get the good assets. Do you think so?
  2. We can reform the education curriculum about sharia economics in Depdiknas and Depag. However, education of Indonesia is centered to both institutions. If the curriculum of sharia economic has succesed to apply in university, it’s possible to apply that curriculum in elementary school too. So that, we must urge the government to include that curriculum in education of Indonesia.
  3. We can prepare books about sharia economics that conforms to elementary school student’s ability. To teach sharia economics to them, we need high quality and trustworty books. So, the true knowledge can be delivered to them well. These books could open a wide perspective about sharia economics.
  4. We can maximaze skill of foreign languages, especially English and Arabic. Because generally, sharia economics knowledge is written with both languages. If the mastery of both languages is not optimal, the comprehension of sharia economics will be unoptimal too, and it can be a mistake to interpret knowledge to be an action. But, if the mastery of both languages is already good, the generation could be the best generation and the famous figure in the world.
  5. Why we must introduce sharia economics to children? Because children are at good period to absorb thousands new knowledge. The ability of accepting the new knowledge in this period is very quick. Like in wise word say “Study early like curved on the stone”.

The specialist of children, Emy Soekresno said that the good time to study a foreign language like English is from 4 till 15 years old. In this age, studying by playing or laughing is very effective. They can talk English fluently. If they can absorb English quickly although they are playing or running, why we don’t try to practice sharia economics to them? I’m sure if we are serious to improve sharia economics for children, we needn’t worry about Islamic resources quality. They will be able to develop system of sharia economics in our nation.

My First Day

My First Day

Today is my first work day. I still remember a few days ago, I follow many exercise to be allowed as rented comic keeper. Almost 4 hours I was interviewed by a physiological master. I was pushed with several emergency conditions in the future. How if you face bla-bla… I was asked to write on one page A4 by filled my signature on the button of paper. I wrote, finished. I gave it to the master. Then the master said that I’m a girl whose so high idealism. And it impacted badly for me. I would look a stubborn girl because of that ideal.

Then the master asked me to write one more. But I’d to write without a book or anything under the paper. I wrote and this time I’d write much more than before. Actually, I felt that the master was annoying me. My fingers were sick. But, I wouldn’t give up. The master watched me writing. When I finished, I was asked to continue writing on the next page. OMG, my heart shouted. Although my fingers were unfelt, I went to write more and more.

There was a smile from the master when I finished my writing. The master said that from positive side: You were smart, diligent, very logical, no need to give up, so rational, sanguine, extrovert, and kind. From the negative said: You were arrogant, ambitious, insensitive, and difficult to accept other view.

It was amazing for me. With writing, a psychological master can find our characters and atitudes. He can analyze our characters and we can’t hide anything from him.

Hunting

Hunting

Yesterday, I spent my weekend at Gramedia. I went there at 9 o’clock (morning) and back at 9 o’clock (night). I was satisfied enough. I could read Detective Conan vol. 56. I also read the feedback of the cases that wrote in narrative books. I was so happy 4 imaging, how Sherlock Holmes solved the cases in Arthur Conan Doyle’s book. Or what Hercule Poirot did when he passed the difficult cases, and that was descriptive beautifully by Agatha Cristie. Love them.

What amazing books. I don’t know exactly why I love detective stories so much like this. I used to have a dream of the my other dreams about 6 years ago,  to be a detective. Now, the dream must be “gone”. I know I can’t be what I want. :(

But, life must go on, rite? Now, I’m hunting my dreams. Have I told you what my dreams are? Actually, I have more than 100 dreams. The most important point, I wanna go to the pilgrimage. I wanna be a great writer, specially novelist. I wanna be a public speaker in many languages. I wanna dive in Wakatobi island. I wanna visit Europe, Australia, Africa, America, and Asia exactly. I wanna be a success business woman that can help to people that have low economic. I wanna study abroad. I wanna build my hometown or nation to be developed. I wanna be an auditor 4 finance as changer of detective. I wanna be a sholihat wife 4 my husband (absolutely).

There are still many-many my dreams that I can’t mention one by one. And I believe, Allah always makes our dreams come true if we really-really believe Him. So, my friend, don’t worry to dream. Write your dreams on the paper now! And try to get them. Finally, just do’a and tawakkal.

PS: The last, but not at least, I want my parents proud of me. I want Rasul gives his syafaat to me. And I want Allah loves and cares for me till the day after death. Amen.

Wisata Kuliner Lucu

Wisata Kuliner Lucu

Kemarin jalan-jalan bareng Riefa ke Pamulang 2, dan mampir ke tempat makan -entah dibilang kafe ato resto- yang tampaknya masih baru. Karena tertarik dengan brosur -yang katanya serba hangat- yang dibagikan oleh seorang ibu di depannya, akhirnya kami berdua memantapkan diri untuk masuk. Meski tau bahwa pengunjungnya cuma kami berdua. But, let’s try to taste it…

Step 1: Aku sendiri memesan sate ayam dan temanku, Riefa, memesan ayam rica-rica kepada waitress A dan bilang bahwa kami berdua makan di sini. Kami sudah berfikir, bahwa ini bakal lama karena seperti yang telah tertera di brosur “serba hangat”. Jadi otomatis semua makanan baru akan dimasak jika ada pesanan.

Step 2: Sambil menunggu (udah agak lama), kami nonton TV, ngobrol dan iseng-iseng liat menu. Aku baru nyadar, ternyata tidak setiap menu makanan disertai dengan nasi. Sate ayam ternyata tidak pakai nasi, sedangkan ayam rica-rica milik Riefa ada nasinya. Akhirnya, kupanggil lagi waitress (kali ini yang ada hanya waitress B) dan memesan 1 porsi nasi lagi.

Step 3: Waitress B kemudian datang lagi dan nanya, “Makannya di sini ato dibungkus, Mbak?” Kami jawab, “Makan di sini.” Kami bisik-bisik, “Bukannya tadi udah bilang ke waitress A kalo kita makan di sini? Gimana, sih, jangan-jangan menu kita baru dibikin, nih.”

Step 4: Setelah menungu ‘agaaaak’ lama, datanglah waitress dengan membawa nampan. Kami sudah berharap agar secepatnya mengisi perut yang belum diisi makan siang -sedang saat itu jam sudah menunjukkan jam 15.00. Ternyata sang waitress tidak membawa pesanan kami dengan komplit. Hanya ada 2 porsi nasi dan 2 paket sendok-garpu yang dibungkus dengan tisue. Trus, aku nanya, “Lauknya mana, Mas?” Waitress itu menjawab, “Lagi disiapkan, Mbak.”

Step 5: Iseng-iseng, kami mencuil nasi yang telah dihidangkan. Kesan pertama : dingin, keras. Bisik-bisik kami berstatement, “Mana hangatnya?”

Step 6: Setelah menunggu “sangaaaat lama” akhirnya nongol juga nampan lauk pauk. Jujur, kita agak bingung, karena dalam nampan bukannya sate dan ayam, tapi dua-duanya ayam. Awalanya kami mengira, itu buat pelanggan lain, tapi setelah memandang sekeliling, wong cuma kami berdua pelanggannya. Aku pun nanya, “Satenya mana, Mas?” “Ada, Mbak di belakang, bentar lagi abis ini.” Trus Riefa nanya, “Ayamnya buat siapa?” Kata masnya, “Di sini juga kan?” Serempak kami menjawab, “Gak, kita cuma pesennya 1 doang kok.” Akhirnya sang ayam pun dibawa ke dalam kembali oleh waitress B.

Step 7: Setelah menunggu ribuan detik, akhirnya sate ayamku pun datang. Kami mulai makan (sehabis berdoa tentunya). Awal, aku mencicip sambal kacang yang ada di sate, hm, it’s nice enough. Trus aku menggigit satenya, beda dari sate-sate biasa. Pokoknya lebih enak sate biasa yang dijual di kampus deh. “Try to taste it,” pintaku ke Riefa. Dia pun mengiyakan, memang beda. Aku pun meneliti tekstur sate tersebut. Aneh. Biasanya warna sate coklat karena abis dibakar. Sedangkan ini warnanya putih kayak habis direbus. Dan jujur, sejujurnya, baik sambal maupun satenya tidak ada hangat-hangatnya. Busyet dah…

Step 8: Aku mencuil ayam rica-ricanya Riefa. Hm, enak juga. Meski kata Riefa agak aneh dan berbeda baik dari segi bentuk dan rasanya dari ayam rica-rica di Kampoeng Djajan yang terkenal itu. “Which one is more delicious?” tanyaku. Kampoeng Djajan jawabnya.

Step 9: Ketika asyik makan, aku merasa serat. Sehingga nyari minum. Betapa kagetnya kami berdua (aih, lebay, ah), ternyata waitress-nya lupa nyediain minuman yang sebelumnya juga sudah kami pesan. Kami panggil lagi waitressnya dan minta bawain air teh tawar pesanan kami. Trus kami berdua ditanya, “Mau yang hangat atau dingin, Mbak?” “Biasa aja,” jawab Riefa.

Step 10: Waitress datang membawa minuman. Air teh es. Es, es dan es. Padahal tadi kami minta yang biasa. Hhrgh…

Step 11: Parahnya lagi, sang waitress cuma bawa 1 gelas, bukan 2 gelas. Kami mengira sang waitress bakal ke dalam untuk mengambi 1 gelas lagi. Aih, aih, setelah ditunggu-tunggu tidak datang-datang juga. Kami pun memanggil waitress untuk kesekian kalinya dan minta minum 1 gelas lagi. “Oh, 1 gelas lagi ya, Mbak?” kata waitressnya dengan polosnya. Huehue…

Step 12: Karena sangat lapar, semua makanan ludes juga. Kemudian kami  mencuci tangan ke wastafel yang disediakan dan ke kasir. Pas di mobil dalam perjalan pulang, iseng aku liat struck makan tadi. Bagai disambar petir, ternyata ayam yang dimakan Riefa tadi bukanlah ayam rica-rica, melainkan ayam penyet. Pantesan aneh. Sepanjang jalan kita hanya bisa tertawa. Huahuahua…

This is Me

This is Me

I Always been the kind of girl that hid my face
So afraid to tell the world of what I’ve got to say
But I have this dream right inside of me
I’m gonna let it show
It’s time
To let you know, it’s about you know

This is real, this is me
I’m exactly where I’m supposed to be now
Gonna let the light, shine on me
Now I found, who I am
There’s no way to hold it in
No more hiding who I wanna be
This is me

Do you know what it’s like to feel so in the dark
To dream about a land where you’re the shining star
Even though it’s easy
Like get to far away
I have to believe by myself, it’s the only way

You’re the voice I hear inside my head
The reason that I’m singing
I need to find you
I’ve got it find you
You’re the missing piece I need
The song inside of me
I need to find you
I’ve got it find you

You’re the missing piece I need
The song inside of me
You’re the voice I hear inside my head
The reason that I’m singing
Now, I found, who I am
There’s no way to hold it in
No more hiding who I wanna be
This is me…