Tanggung jawab menghasilkan usaha yang maksimal…
Latest Updates RSS
-
Nastanesha
-
Nastanesha
Centurygate bisa dibilang kejahatan ekonomi politik. Gimana tidak, dengan mengatasnamakan ‘penyelamatan perbankan’ terjadilah kejahatan Century yang sebenarnya demi kepentingan politik. Uang 6,7 triliun raib entah ke mana, jika nanti terbukti bahwa uang tersebut di alirkan ke salah satu kantong partai, maka ini menjadi kejahatan elektoral.
Saya setuju sekali dengan pendapatnya Mas Boni Hargens, bahwa kasus Century adalah suatu bentuk moderenisasi korupsi. Dulu korupsi dilakukan dengan mengambil uang di laci, tentu saja hal ini sangat mudah dilacak dan sulit untuk dipertanggungjawabkan oleh pelaku. Tapi sekarang, korupsi tidak lagi dilakukan dengan tangan kosong. Dengan kedok kebijakan politik, pelakunya bukan individu melainkan kolektif, kolektif bukan berarti berasal dari satu institusi namun dari berbagai institusi, lintas lembaga. Ck, ck…
Dan tentu saja kasus pola korupsi moderen ini sangat sulit dipecahkan, bahkan mungkin ‘mustahil’. But, nothing impossible. Setiap kali kasus menemui titik terang selalu saja ada ‘penyelamatan’ dari rekan-rekan pelaku dari berbagai institusi hukum dan politik. Semuanya hanya kembali kepada Allah. Umat harusnya berdoa, semoga sejahat-jahatnya kejahatan ini bakal segera tuntas, tas, tas!!
Allahu ‘alam
-
Nastanesha
Hope something impossible
But, it not sure impossible
You have spirit
That makes you be wonderful
You faces barriers
That makes you be stronger
You fall in tears
That makes you be survivor
Yeah, just survive…
-
Nastanesha
That girl is still young
Her life has just begun
Many ideas have got to fill brain
Many experiences have got to do
But, why they are lost cause of sins?
You said, love is everything…
You said, love is everything…
‘Till you put your head on the knee
‘Till you does something that Islam prohibits
No, my sister, you are wrong
Love is not everything
But, love is Allah
But, love is Muhammad
Remember your God before you wanna do something sinful
Because He always looks at you
Because He always cares about you
Or don’t you have God?
I know, a regretful gesture is no effect
But, there is no late
-
Nastanesha
Semangkuk cinta? Yup, itu judul buku yang baru kubaca. Tak terbendung air mata ketika memutuskan nyelesain bacanya. Mengharukan. Ternyata sebuah hubungan yang serius dalam bingkai pernikahan itu tidak mudah. Sebenernya aku gak sengaja milih buku ini pas ke perpus. Kirain bacaan untuk remaja. Eh, ternyata bukan. Tapi, gapapa juga sih untuk remaja kayak kita-kita ini. Bisa jadi buat bekal kelak kok.
Mungkin yang sekarang kita bayangin tentang pernikahan adalah seneng, sayang, senyum, bahagia, dkk pokoke yang enak-enak deh. Padahal tidak sepenuhnya betul, pernikahan adalah menyatukan 2 orang, 2 kepribadian, 2 idealisme dan 2 keluarga yang berbeda. Mungkin pertengkaran kecil bisa jadi besar karena kondisi emosi yang tidak stabil sehingga kata-kata pisah, cerai, putus terlontar dengan mudahnya.
Sebenarnya kasus ‘kawin-cerai’ yang lagi marak sekarang ini bisa saja di atasi dengan cara mempertimbangkan hal-hal berikut :
- Apakah kamu masih cinta pasanganmu?
- Pernikahan itu sangat-sangat sakral karena ia adalah janji kita dengan Allah SWT
- Pikirkan nasib anak (jika udah punya), untuk sekarang ini anak adalah yang terpenting, hendaknya perasaan ortu yang merugikan anak dikesampingkan dulu
- Apakah kamu yakin bahwa setelah bercerai kamu pasti bakal bahagia?
Yak, dengan 4 hal di atas, kamu pasti mikir dulu untuk meluncurkan kata ‘cerai’, bukan?
Kata buku ini (buku kok bisa bicara ya??), seorang pria bisa saja “bermain” dengan seorang wanita meski tanpa cinta. Bermodalkan rasa tertarik doang mereka bisa made out. Tapi wanita, tidak seperti itu. Wanita cenderung setia dan pemaaf. Makanya, di dunia sekarang ini, mayoritas yang menyebabkan perceraian hingga isteri menjadi sengsara adalah : suami tidak setia. Dan katanya (katanya loh) ini karena pria menyukai makhluk cantik, yang tidak cantik ditinggalkan. Huuh…
Hi, para suami dan calon suami… Setialah pada pasangan kalian, karena setia akan membawa kebahagian. Karena setia itu bermakna jujur. Dan jujur membawa kedamaian. Hubungan yang ideal adalah yang mengerti dan mengamalkan 3 kata ini : affection, loyality, dan respect.
So, do it, guy!
-
Nastanesha
Dulu waktu awal ngeblog aku sangat yakin bisa nulis minimal sekali seminggu itu 1 kali posting. Setengah tahun awalnya memang sangat produktif, tapi ke sini-sininya hal itu luntur. Terkikis atas nama kesibukan. Duh, emang bener kata orang. Ngomong emang mudah, ngalakuin? Talk only no action!
Emang ini sedikit banyak disebabkan oleh mood. Mood yang jelek kadang bikin kita malas-malasan kerja. Contohnya aku. Kalo lagi bad mood, penginnya tuh bacaaa aja. Ga pengen lakuin apapun. Kayak hari ini, seharian ini habis nyuci, langsung ke kamar trus ngelahap novelnya Agatha Cristie sampe habis 2 buku! Sad Cypress danThe Mysterious Affair at Styles.
Kata penulis-penulis terkenal, untuk menulis jangan pernah nunggu kedatangan mood. Sebaliknya, kita lah yang harus menciptakan mood. Dan inilah masalahnya, sampai sekarang aku belum tau, gimana caranya menciptakan mood.
Anybody knows??
-
Nastanesha
Tadi abis baca sebuah buku yang lumayan bagus. Temanya ‘Cinta n Remaja’ gitu deh. Penulisnya banyak menceritakan tentang ragam karakter pria. Bahwa mayoritas pria itu sama. Sukanya liat makhluk cantik. Hihi… Normal sih. Tapi, ada tapinya lho. Contoh nih (dari penulis), seseorang (pria) ingin menikah. Dia punya dua calon.
Calon I : lumayan pintar, keturunan baik-baik, agamanya sih sedang-sedang aja, tapi satu yg paling menonjol : cantik!
Calon II : berwawasan luas, cerdas, keturunan baik-baik, barwajah sedang, n pengamalan agamanya subhanallah…
Ternyata kaum pria cenderung untuk memilih calon I sebagai isterinya. Padahal kalo dia menikah karena Allah pastinya dia akan milih pilihan II, yaitu karena faktor agama. Di sini lah sebenernya kaum pria banyak yang tertipu dengan ‘kulit luar’ seorang wanita. Seharusnya mereka dalam memilih pasangan lebih menilik kepada ‘inner’. Seharusnya…
* * *
Waktu kukonfirm ke kaum pria tentang masalah ini, mereka malahan memberikan perlawanan, dengan memojokkan kaum wanita pastinya. Bahwa wanita terlebih dahulu melihat ke kantong pria ketika mereka memilih calon pasangan. Seharusnya (kata kaum pria), wanita hendaklah melihat kepada ‘kesungguhan’ dulu. Yaitu kesungguhan untuk menikah demi menjaga diri dari maksiat. Dengan kesungguhan itulah, pastinya mereka juga akan bersungguh-sungguh dalam menghidupi anak-isteri mereka nantinya.
Nah, aku (karena wanita kali ya) ingin meletakkan pembelaan terhadap ‘boys say’ bahwa alasan kenapa kaum wanita melihat kantong pria lebih dahulu ketika memilih calon pasangan, hal ini tidak lepas dari keinginan wanita yang ingin hidupnya bahagia sehabis menikah. Realistis aja, kalo kita kaum wanita gak bisa makan gara-gara sang suami gak punya uang, derita juga kan yang kita dapat?
But, bagi wanita juga, jangan terlalu mikirin seberapa tebal sih isi kantong pria. Kalo ada wanita yang seperti itu bisa dibilang materialistis. Menurutku asal dia bisa ngasih makan anak isterinya, so what gitu loh…
-
Nastanesha
Hi, guys
UAS dah kelar tanggal 4 Juli kemarin. Hari pertama ba’da UAS yang kulakukan adalah nonton sepuasnya. Film yang kupilih adalah When It’s at Night drama Korea yang bercerita tentang bagaimana seorang polisi wanita untuk Departemen Kebudayaan Korea (Chu Ji) berusaha melindungi, menjaga dan mencari harta berharga milik negara berupa barang-barang antik dengan dibantu oleh seniman muda yang lagi naik daun (Jin Sensei). Mereka berdua adalah kolaborasi yang hebat baik dalam kerja ataupun asmara. Ceritanya sih gitu, hehe. Film ini ada 17 episode, wah jadi gak tidur semalaman gara2 nonton.
Lusanya, jam 6.30 pagi kami (aku n teman2 pengurus IsEF) pergi ke Bandung untuk study banding di UNPAD. Nyampe di UNPAD jam 9.30 n disambut oleh temen2 ISEG UNPAD dengan antusias. Alhamdulillah. Selesai solat Zhuhur kita melanjutkan perjalanan makin ke atas yaitu Cwidey tepatnya ke Kawah Putih. Setelah naik olang-aling (mobil pick up yang melaju di tanjakan dengan ngebut) akhirnya sampe juga di Kawah Putih. Ba’da menikmati pemandangan, photo2 dan beli oleh2 kita menuju bis n nyampe Jakarta 10.30 malam. Cuapek tapi senang.
Besoknya adalah pemilu. Ku jadi saksi untuk no urut 2. Lanjutkan, Pak…
N hari ni, 10 Jul, saatnya ku pulkam. Borneo, pliz wait 4 me…
Setahun lebih lum pulang, ga kebayang apa yang harus gw lakuin di depan orang2 yang gw cintai.
Nangis terharu kah? Ato meluk mereka? Ato tersenyum bahagia?
I think the last is the best, rite?
-
Nastanesha
Dunno what I’ve to do
Be ice, cold
No summer hereAll be quit
Just tears fell
Feel homesickLove u
-
Nastanesha
Lega rasanya bisa menyempatkan waktu menulis lagi. Setelah beberapa minggu ini vakum. Wuih, entah karena virus ‘malas’ atau wabah ’sok sibuk’, pokoknya semangat menulisku benar-benar meranggas. Sebenarnya minggu ini adalah minggu-minggunya UTS. Eh, giliran waktu UTS, entah kenapa aku ‘kebelet’ banget buat nulis. Meski hanya beberapa kalimat seperti ini. Hehe…
Temen-temen semua yang baca posting ini, mohon doanya semoga nilai UTSku tahun ini lebih baik daripada sebelumnya, ya? Amiin. Btw, my feeling is like this now:
Look at your smile
Make me happy
Fly up, then
Seek the something right
Observe my heart
‘mambo-jumbo’
It told me
That’s all…