Janji tetaplah sebuah janji. Satu hal yang jika umur masih ada, wajib ditepati. Di akhir Februari lalu saya pernah berjanji untuk berbagi cerita perjalanan saya di Jogja. Tepatnya melanjutkan cerita A Long Journey (Part I).
Di hari kedua saya, Rabu, 23 Februari 2011, setelah mengitari kawasan Merapi pada pagi hari dan bersantap siang dengan Nasi Kuning Sambal Habang khas Banjarmasin di Kindai, saya dengan diantarkan seorang teman menuju perpustakaan Fak. Ekonomi UGM. Sayang sekali, buku yang saya cari tidak ada. Kata petugas perpus, kemungkinan besar buku yang saya cari ada di Perpustakaan Utama (PU). Mungkin besok saya baru bisa ke sana, mengingat teman yang mengantarkan saya punya jadwal kuliah sampai sore nanti. Zhuhur sudah tiba, saya naik ke mushola di lantai atas. Karena ini hari kedua saya di Jogja, saya pun memutuskan menjamak taqdim. Rukhshah dari Allah memang sudah seharusnya diambil, tidak boleh disia-siakan.
Sambil menunggu teman yang sedang kuliah, saya browsing dan membalas beberapa email teman. Kemudian, mulai memantapkan mata ke sebuah buku tebal bertemakan Accounting for Not for Profit Organization. Tema yang ringan, namun menelisik kepekaan kita. Saya tercenung, betapa banyak entitas masa kini yang mengoarkan dirinya berbasis nirlaba namun justru laba yang selalu mereka cari dalam tiap program amalnya. Konon, seorang dirut sebuah entitas nirlaba mengeruk keuntungan puluhan juta tiap bulannya, yang katanya, nominalnya jauh lebih tinggi dari gaji seorang presiden sekalipun. “Zaman sekarang, nirlaba ataupun tidak, memang sudah tidak ada bedanya, ujung-ujungnya sama saja, profit oriented,” pikir saya.
Asyik membaca, saya mulai lupa waktu, di luar sudah mulai gelap. Saya mengambil ponsel, ada tiga panggilan tak terjawab dan dua sms. Dari teman saya. Dia sedang menunggu saya di depan pagar perpustakaan fakultas. Saya bergegas ke sana, nyengir, dan meminta maaf. Ponsel saya dalam kondisi silent karena lagi perpustakaan. Jadinya tidak mendengar ada telepon dan sms masuk. Teman saya hanya bisa tersenyum, sudah tau kebiasaan saya, jika sudah ke perpus bisa lupa waktu. Ketika saya di SMA, saya pernah diusir paksa oleh petugas perustakaan daerah. Waktu itu saya di perpus dari jam 8 sampai jam 5 sore. Penjaga perpus sudah mau pulang dan mengancam akan tetap mengunci pintunya jika saya tidak pulang. Saya tetap bergeming, akhirnya saya pun diseret keluar secara paksa. Hehe… Waktu itu saya lagi seru-serunya membaca sejarah penyebaran Islam di Jawa yang dilakukan oleh Laksamana Cheng Hoo, yang bukunya lebih tebal dari buku Harry Potter yang kelima.
Sesampainya di kosan teman saya, saya pun mandi dan berganti baju. Petang ini saya dan tiga orang teman saya akan menjelajahi Malioboro dan alun-alun. Tak berapa lama sampai di Malioboro, azan Maghrib berkumandang. Saya pun berniat untuk jamak ta’khir, mengerjakan solat Maghrib di waktu Isya. Setelah membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga dan temen-temen di Jakarta, saya dan 3 orang temen saya dengan dua buah motor menuju alun-alun. Meski malam Kamis, alun-alun sangat ramai. Saya membayangkan, gimana malam Minggu, ya? Mungkin sudah seperti pasar ikan di pagi hari, tumpah ruah.
Kami pun memilih tempat yang cukup untuk nongkrong kami berempat. Di sampingnya ada penjual ronde, minuman khas Jogja (cinca?). Butuh waktu lama bagi saya untuk membedakan antara ronde dan sekoteng. Menikmati udara Jogja yang dingin menggigit dipadukan dengan hangatnya ronde sungguh pas sekali. Kalimat tahmid meluncur dari lidah. Nikmat apa lagi yang pantas kita dustakan?
Jam menunjukkan angka 10, saatnya pulang. Besok siang, setelah saya ke PU pada pagi harinya, saya dan 3 orang teman saya berencana menjelajah daerah Magelang, tepatnya Candi Borubudur, salah satu dari 7 keajaiban dunia. Setelah itu, sorenya, pukul 16.45 saya akan pulang ke Jakarta dengan kereta ekonomi lagi (tak jera).
Setelah mendapatkan semua buku yang saya cari dan mem-photocopynya di PU UGM, pukul 11 rombongan saya berangkat. Dengan 2 buah motor, kami mulai mengarah ke utara Jojga. Ini untuk pertama kalinya saya ke Candi Borobudur. Perjalanan menuju Magelang membuat hati saya basah. Masih banyak atap-atap rumah diselimuti lahar dingin. Ada juga di beberapa kawasan jalan, separohnya ditimbuni lahar dingin. Satu momen yang membuat saya terenyuh. Membayangkan ketika detik-detik lahar dingin itu “merayapi” kehidupan masyarakat Magelang dan sekitar.
Sebelum memasuki Borobudur, kami solat Zhuhur dulu (plus solat Ashar bagi saya). Meneliti bangunan Borobudur, membuat kita berpikir, apakah bangunan ini benar dibangun berabad-abad yang lalu di mana belum ada IT canggih seperti sekarang? Sungguh luar biasa, tak terbayangkan oleh saya, ribuan orang yang dikerahkan pada dinasti Syailendra bahu membahu mengangkat batu alam sampai menjadi candi yang tinggi menjulang. Wow, fantastis!
Setelah mengambil beberapa foto dan puas menikmati pemandangan dari atas candi, kami pun turun ke bawah, melihat kerajinan tangan yang patut dijadikan oleh-oleh. Ternyata souvenir di sini jauh lebih murah dari Malioboro. Ada sedikit sesal kenapa saya ke Malioboro duluan. Seharusnya saya ke sini dulu. Saya membeli beberapa kaos, pin, gantungan kunci, dan miniatur Borobudur untuk dibawa pulang.
Pukul 14.30 kami kembali menuju Jogja. Sebelum menuju Stasiun Lempuyangan, saya ingin memanjakan lidah di Kindai (lagi-lagi). Menu yang saya pilih berbeda dengan sebelumnya. Kali ini saya memilih Soto Banjar sebagai menu utama makan siang. Setelah makan, saya pulang ke kosan teman. Sedikit tergesa membersihkan badan, membereskan barang, dan langsung menuju Lempuyangan. Jam 16.30, lima belas menit lagi kereta berangkat menuju Jakarta. Saya menjabat tangan teman saya dengan erat. Mengucapkan rasa terima kasih yang hangat. Saya berjanji untuk kembali ke sini tahun depan. Jogja bagi saya masih menyimpan misteri alam yang memukau, yang patut ditelusuri hingga ke pelosok-pelosoknya.
Jogja, wait for me. I’ll visit u later.
Jogja, February 24th 2011
Ditulis kembali, Depok, November 27th 2011